Demi Masa

MENSUCIKAN HATI DALAM MENGGAPAI RIDHO ILAHI

Selasa, 17 April 2012

Mendidik Dengan Kasih Sayang


Mendidik Dengan Kasih Sayang
Oleh : Ahmad Riyadi, S.Pd.I*)
 الرفق لايكون فى شيء إلا زانه ( رواه مسلم )إن
“ Sesungguhnya tiadalah kelembutan itu menyertai suatu urusan kecuali menghiasinya”
( Diriwayatkan Muslim ).
إذا أراد الله عز وجل بأهل بيت خيرا أدخل عليهم الرفق ( رواه أحمد )
“ Apabila Alloh ‘Azza Wajalla menghendaki kebaikan suatu keluarga, Alloh akan memasukkan kelembutan atas mereka” (Diriwayatkan Muslim ).

عن عا ءشة قالت ماضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم شيأ قط بيده ولا إمرءة ولا خادما إلا أن يجاهد فى سبيل الله    ( رواه مسلم ) 
“ Dari ‘Aisyah رضي الله عنها  berkata : “ Rosululloh tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, tidak pula memukul istrinya dan pembantunya, kecuali ketika berjihad fi sabilillah.” (Diriwayatkan Muslim ).
Kelembutan dan kasih sayang dalam menanamkan nilai – nilai akhlak merupakan salah satu cara yang disukai anak, dengan sentuhan kasih sayang,  mereka dapat belajar lebih percaya diri, motivasi belajar yang tinggi dan dalam dirinya ada perasaan aman, nyaman dan diterima keluarganya, gurunya dan teman – temannya. Tidak sedikit pula yang menghadapi anak dengan memakai cara kekerasan,  kasar, bentakan bahkan pukulan, sehingga muncul trauma berat sehingga dalam diri anak terbentuk jiwa – jiwa psikopat, pribadai dan akhlak yang buruk.
Simak kasus  Anak yang diperlakukan secara kasar dan keras.
Depresi yang dalam  ( deep depression ) pernah dirasakan oleh Tami, seorang siswi SD di Jawa Timur. Tami pindh dari sekolah sebelumnyakarena tak lagi punya semangat sekolah.
Yang ada alam benaknya hanyalah ketakutanterhadap sekolah. Menurut informasi dari ibunya , Tami pernah diperiksakan ke psikiater di Surabaya. Ternyata Tami mendeita Trauma terhadap sebuah kejadian di sekolah. Tami pernah dimarahi, dibentak dan dipermalukan di depan siswa lain oleh guru di sekolah sebelumnya. Saat itu layaknya anak – anak lain yang sering melakukan kesalahan , Tami membuat kesalahan yang menyulut kemarahan sang guru. Sayangnya,  akibatnya sungguh fatal : Tami mengalami trauma psikologis yang cukup parah dan sampai akhirnya orang tuanya berkonsultasi kepada seorang psikolog, kemudian menyarankan Tami untuk pindah sekolah. Tami disembuhkan di sekolah yang menerapkan  metode multiple intelligeences disekolah baru sekolah yang berbasis multiple intelligeences di Indonesia dalam asuhan pakar pendidikan multiple intelligeences yaitu bapak Munif Chatib.
Begitu juga penulis juga pernah menemukan anak yang mengalami trauma seperti Tami dan untuk menyembuhkannya harus membutuhakan waktu kurang lebih enam bulan dan satu tahun kemudian baru normal sembuh seperti anak pada umumnya.
Ibnu Khaldun berkata : “ Barangsiapa yang sewaktu dididik diperlakukan kasar dan keras oleh guru, dan para pembantu, maka sikap keras itu akan menguasai dirinya dan jiwanya akan disesakkan oleh sikap keras itu , akibatnya kedinamisan jiwanya hilang, justru sikap keras itu mendorong dia malas, berdusta dan berbuat keji karena takut tangan yang keras itu melayang diatas badannya. Didikan keras juga mengajarinya bersikap keras pula, suka berbuat makar dan tipu daya sehingga merusak akkhlaknya dan hilang sifat – sifat kemanusiaannya.
Apakah memukul dalam mendidik itu tercela
Rosululloh memberi rambu – rambu  dalam hal ini, jadi memukul anak dalam mendidik, adakalanya diperbolehkan ketika anak usia sepuluh tahun dan itu pun hanya dalam perkara pembiasaan sejak dini dalam urusan sholat. Selain urusan sholat  tidak diperbolehkan. Nabi
صل الله عليه وسلم   bersabda :
علموا الصبي الصلاة ابن سبع سنين واضربوا ه عليها ابن عشر ( رواه الترمذى وأبو داود )  
 “ Ajarilah anak kecil sholat ketika usia tujuh tahun dan pukullah ia ( bila enggan mengerjakan ) sholat ketika usia sepuluh tahun. ( Diriwayatkan Tirmidzi dan Abu Daud ).”
Jadi memukul tidak selamanya tercela ketika sesuai dengan contoh Nabi صل الله عليه وسلم    dan jika memukul selain yang dicontohkan Nabi صل الله عليه وسلم   maka ia akan menjadi tercela.
Aturan Main Dalam Memukul
1.      Janganlah pukulan dikenakan kepada anak sebelum usia sepuluh tahun karena anak usia  0 – 6 tahun masa – masa  perkembangan emosionalnya dan mengenal lingkungan di selilingnya. Masa kecil akan menyimpan rekaman memori kejadian yang sangat kuat.
2.      Menghindari pukulan seminimal mungkin, ibarat garam dalam makanan, ia akan terasa enak jika kadarnya sedikit tetapi jika terlalu banyak akan terasa tidak lezat. Begitu juga terlalu sering memukul dapat meruntuhkan rasa percaya diri .


3.      Memukul tidak terlalu keras dan menghindari bagia yang membahayakan seperti bagian wajah. Nabi صل الله عليه وسلم   :
أخاه فليتق الوجه ( رواه مسلم ) إذا قاتل أحدكم

“ Apabila kalian memukul salah seorang diantara kamu hendaklah menghindari wajahnya. ( Diriwayatkan Muslim ).
Kapan pukulan harus di hentikan
Pukulan harus segera dihentikan jika ia berdzikir menyebut nama Alloh.
Nabi صل الله عليه وسلم    bersabda :
إذا ضرب أحدكم خا دمه فذكر الله فار فعوا أيديكم (رواه الترمذى , كتاب البر والصلاح )
“ Apabila salah seorang diantara kamu memukul pembantunya lalu ia menyebut nama Alloh maka angkatlah tanganmu ( hentikanlah pukulanmu. (Diriwayatkan At - Tirmidzi ).
Apa dampaknya jika anak sering dipukul
1.      Anak akan tumbuh kebencian dan hilang rasa simpatik kepadanya.
2.      Pukulan dengan emosi tidak dibenarkan dalam syari’at karena sekedar meluapkan rasa emosi dan jengkel kepada anak.
3.      Hukuman dengan pukulan tidak efektif menghentikan pelanggaran pada anak, dan sfatnya hanya sementara.
4.      Emosi sering tidak memperhatikan batasan – batasan dan seringnya timbul penyesalan dikemudian hari.
5.      Menumbuhkan rasa dendam dan negatif thinking.


Maroji’ :
§  Tumbuh kembang dibawah naungan Ilahi, Jamal Abdurrahman.
§  Sekolahnya Manusia, Mubif Chatib
§  Tarbiyatul Aulad, Dr. Nashih Ulwan



 

                 *) Disampaikan  dalam khutbah jum’at, masjid  Al – Hidayah Trias. Pada hari Jum’at, 6 April 2012



Tidak ada komentar:

Posting Komentar